Rumah No.15

by maradita

11692477_10153111626624023_7436257696019162334_n

Sore itu, kami berkunjung ke rumah Bapak Prof.Dr. Biranul Anas Zaman, M.Sn, akrabnya kami panggil beliau Pa Anas. Begitu lah kami biasa memanggil beliau ketika jaman-jamannya kami masih seliweran di kampus. (plis jangan tanya jaman itu udah berapa taun yang lalu -udah lama lah pokonya- hehe).

Sebagian orang mengenal beliau sebagai Bapak, terutama untuk anak-anak jurusan program studi kriya tekstil, sebagian mengenal beliau dengan ke-rese’an dan tingkat disiplinnya yang tinggi- terutama bagi anak-anak seni rupa- hehe, dan tanpa bermaksud melebih-lebihkan, secara natural Bapak adalah pemberi inspirasi, motor penggerak, alat lontar, mentor – you named it! Kalau lah saya tanya, saya yakin setiap kita yang berada dalam ranah seni rupa- desain- dan kriya pasti punya sepenggal cerita yang gak mungkin ngak pasti punya cerita yang berkesan dengan beliau. Yah minimal, beliau ini yang ngewisuda kita-kita cuy! Dan kita pernah punya dekan yang waktu itu ga jaim mau main musik, ngiringi mahasiswa kribonya nyanyi dengan syahduu!! (lirik Grace) huehehe..

Sama seperti anda-anda semua yang lagi membaca tulisan ini, saya juga punya cerita yang sangat berkesan dengan beliau. Saya memulai menjadi seniman serat, ketika Bapak merekomendasikan dan menyetujui saya untuk dapat ikut berpameran dalam “Asia Fiber Art (AFA) International Exhibition”. Waktu itu saya masih jadi mahasiswa yang agak nakal dan belum lulus. Setelah itu, Bapak juga menyambut ide saya ketika saya bilang mau membuat pameran. Beliau (dan bersama-sama juga dengan Kang Heru Hikayat) ikut membidani pameran seni serat “Playdead” pertama yang melahirkan (calon) seniman-seniman serat muda Indonesia. Kalau lah ga mengenal Bapak, saya ga pernah tau ada ‘mahluk’ yang namanya fiber art. hehehe.. 

Nah, kira-kira.. Selepas pameran Play Dead pertama ini lah sepertinya saya mulai jarang ketemu dan ga pernah silahturahmi lagi dengan Bapak. Saya cuma melihat kabarnya dari dunia maya saja; Facebook. Banyak berita lucu, kadang-kadang bapak suka upload foto-foto, comment-comment. Sampai suatu hari, sekitaran Agustus 2014 saya membaca mengenai kabarnya Bapak yang jatuh sakit. Patah hati, sedih, dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk beliau. Makin hari perubahan fisiknya terlihat sangat drastis, dan mengenai penyakitnya – saya rasa bukan kapasitas saya untuk menuliskannya untuk anda-anda sekalian, dan mengenai foto terbaru juga saya rasa kurang etis juga kalau saya bagi-bagikan di media sosial – yang bisa saya tuliskan adalah cerita mengenai kunjungan saya dan teman-teman pada hari minggu kemarin.

Saya, Nilam, Arini, dan Temme sore itu keukeuh mau ke rumah Pa Anas setelah beberapa hari sebelumnya kami mendengar kabar simpang siur yang kurang enak. Kami keukeuh karena kami belum pernah sekalipun berkunjung sejak beliau jatuh sakit. Keukeuh meski ga tau alamat rumahnya juga, pokonya harus pergi! Setelah menghubungi Ibu beberapa hari sebelumnya untuk kasih kabar dan meminta ijin kami-kami mau datang, akhirnya kami BERANGKAT LAEEE!! 

Sore yang cerah dan hangat..

Pemandangan dari kamar Bapa

Pemandangan kebunnya Ibu yang asri dari dalam kamar. — Dibagian dalam rumah juga terpajang karya-karya tapestry bapa yang cantikkkk sekali. Duh, kangen sekali. —

Ibu menyambut kami, dan bilang ke Bapa “Pa, ini ada Maradita masih inget ga?”. Saya lega, bukan karena Bapa menganguk masih mengenali saya. Saya lega karena Bapa lagi asik nonton TV!! (hahaha). Melalui obrolan singkat dengan Ibu, saat ini kondisi Bapa progresif dan sudah cukup membaik.

Kabar baiknya adalah; Bapa masih sangat semangat! :) Ketika teman-teman mulai bercerita pengalaman di kampus hingga kegiatan sekarang, terlihat responnya yang sedikit menganguk-anguk sambil pindah-pindah saluran TV. (Hahaha, Pa Anas banget gayanya, pura-pura ga merhatiin tapi sebenernya diem-diem beliau dengerin). Ketika kami mengambil foto bersama, peace sign diacungin ke udara.

Sungguh terharu rasanya..

Ada satu agenda yang saya bawa dan rencananya akan didiskusikan dengan Ibu hari itu, namun kondisi kurang memungkinkan untuk membahas hal tersebut, setidaknya tidak di depan Bapa. Agenda tersebut adalah, meminta ijin pada Ibu untuk membuat suatu acara yang kurang lebih biasanya disebut sebagai “Art For Cure”; acara yang mewadahi dan mengumpulkan kami-kami yang sayang dan rindu untuk mendoakan serta menyemangati kepulihan Bapa.

Mengenai bentuk dan detail acara masih dalam proses penyusunan, namun garis besar acara tersebut akan diisi dengan kegiatan pameran seni, musik, dan bazzar produk-produk kriya. Target kecilnya sekarang adalah, mulai membentuk panitia kecil dan memanfaatkan bulan baik ini untuk mengorganisir acara “Art For Cure” sambil halal bihalal-an nanti.

Maka dengan ini, dengan rendah hati saya mengundang teman-teman, bapak, ibu, kakak-kakak, adik-adik semua untuk terlibat, bergabung dan membantu. Saran, dan masukan sangat kami harapkan.

Semoga kita dapat segera bertemu dalam waktu dekat ini ya!

Salam, Maradita Sutantio.

Info, bergabung, dan tanya-tanya?

WA:0896-5147-1308

Line: atidaram

May God bless you abundantly.

Advertisements