Conscious Contact

Tangible mind in a quarter.

Category: indonesia

Pasal 302 KUHP – Tentang Perlindungan Hewan

Seperti kita tau, makin lama makin banyak tindak kekerasan yang dilakukan oleh manusia. Tindak kejahatan dan saling menjahati ga cuma terjadi antar sesama manusia saja, sekarang makin brutal dan berimbas juga pada binatang. Sebutlah penganiayaan orang utan, gajah, harimau di pelosok hutan dan di kebun binatang (di Indonesia – pada khususnya). Karapan sapi, sabung ayam, petarungan pitbul, sirkus lumba-lumba, topeng monyet, YOU NAMED IT!  Udah jelas-jelas binatang langka dan dilindungi , tapi tetep aja ga luput dari kekerasan dan tingkah arogan manusia.

Bukan, saya bukan lantas jadi aktifis perlindungan hewan dan ngajak kita semua buat jadi vegetarian. Bukan itu tujuan saya menulis ini. Terkait dengan postingan menjijikan mengenai seorang bapa-bapa dan juga teman-temannya yang hobi menembak – link berita cari sendiri aja, banyak kok copy pastean-nya. Hobi menembak adalah hobi yang awesome, tapi kalau targetnya kucing, burung atau binatang lainnya jelas-jelas itu gak awesome, men!

Taruh lah si bapa pemburu/ penembak profesional, tetep ada ijin ribet dan selektif sebelum si bapa itu bisa memiliki senjata secara resmi (Perbakin got the rule of law!) dan kalo bisa sampe berburu di hutan atau sekedar berlatih menembak target bergerak ada banyak juga syarat yang harus ditaati (ini diatur di Pasal 6 Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P. 18/Menhut-II/2010 Tentang Surat Izin Berburu Dan Tata Cara Permohonan Izin Berburu – Cek sendiri ya. Terus kalaupun target bergeraknya adalah binatang, biasanya target berupa hama atau yang dianggap hama; misalnya babi hutan (atau tikus got kalo sekelas senjata angin atau air soft gun :P ).

Saya bukan praktisi hukum, dan sama sekali tidak mengerti hukum. Kekecewaan dan kegeraman saya mendapati isi KUHP pasal 302 yang menurut saya sama sekali ga memberi efek jera dan memberatkan pelaku bukan didasari karena subjek tindakan pidana adalah kucing lucu yang juga adalah mahluk kesayangan nabi. Sama sekali bukan itu.

Saya hanya mencoba memahami hak saya sebagai warga negara dan sebagai mahluk hidup. Kalau kekuatan hukum di Indonesia segini lemahnya, saya ga berani ngebayangin kalau sampai terjadi sesuatu sama saya. Jelaslah hak-hak mahluk hidup tidak begitu berharga dimata hukum Indonesia (apalagi kalau cuman rakyat jelata).

Berdasar postingan (dan foto-foto kucing dan burung yang jadi korban), terdapat postingan isi pasal 302 KUHP mengenai tindak kekerasan pada binatang. Isi lengkapnya bisa akses : KUHP; Kitab Undang-undang hukum Pidana & KUHAP; Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana – halaman 102, yang bikin kecewa adalah: bunyi pasal 302, ayat (1) diancam penjara 3bulan atau denda 4500 rupiah, dan ayat (2) – terdapat perbedaan isi, sumber lain menuliskan denda 300rupiah. (Mau makin pening palak, baca pasal 300 mengenai mabuk-mabukan, buat jaga-jaga aja besok-besok hari, heheheh). Anyway, balik lagi ke pasal 302 – saya bengong baca denda cuman 4500,- dan 300,-. Semaleman ga bisa tidur penasaran, masa harga hukum Indonesia cuman 4500,- sih? Beli pecel lele aja masih nombok coy!

Akhirnya paginya saya riset kecil-kecilan bermodal internet doang sih, ga bisa dibilang valid, tapi yah lumayan. Terdapat revisi hukum mengenai hukuman pasal 302 yaitu pada bagian denda dari 4500,- menjadi 5juta-10juta. Hal ini terkait bunyi pasal 302 yang sebelumnya saya coba jabarkan dibikin waktu jaman Hindia-Belanda. (OMAYGADDD, WOI AH!!! diupdate kelesssss) : )))))))) (Sumber: ini dan ini)

“Ini kan kasus binatang, udah lah ga usah dibikin ribet!”, “Wajar aja hukumannya lebih ringan daripada menghilangkan nyawa manusia, udah deh”.  Iya – Njeh n’doro.. memang subjek bahasan kita cuma binatang, mahluk yang kurang mulia dibandingkan akal&budi para manusia yang diagung-agungkan. Tapi, Plis anggap ini penting dan juga bahaya! Dibalik tindakan brutal ini, ada satu penyimpangan, kelainan jiwa yang kalau dibiarkan ujung-ujungnya akan berakibat juga pada kita – manusia si mahluk mulia. (rolled eyes) – Now I got your attention huh?

Semoga kita semua selalu dilindungi dan dijauhkan dari urusan-urusan beginian. Amin.

Be selective in your battles, sometimes peace is better than being right.

-xo-

Single Mother

“The coolest thing about being child with single parent is; You only have to make one person proud of you”.. #hasilbelajarmalam

Ini sebutir twit gua yang menurut gua cukup keren buat dishare jadi postingan yang lebih panjang. (huh?) : D

As I said, Im the only child. Gak cuma itu, gua juga hanya punya satu orang tua, nyokap. *mendadak ada backsound lagu bunda-nya Melly goeslaw*

Jadi anak tunggal ga se-enak yang dibayangin orang, semua perhatian (baca: penyelidikan, pengamatan, pengintaian) khusus tertuju sama lu doang. Kata orang enak, semua barang jd milik lu sendiri tanpa harus giliran sama adik/ kakak lu. Berlimpah mainan, makanan, baju bagus, rumah mewah (apa sih ini?). orang-orang juga bilang katanya enak, semua warisan bakal jatoh ketangan lu semua (okeh enough).

Jadi anak tunggal, lu harus dewasa sendirian. Beruntung kalo punya anggota keluarga laen yang seumuran, sepupu misalnya. (gue kagak), kalau tumbuh dewasa bareng dan intensif sama yang seumuran bakal enak, soalnya lu punya sparing partner *istilahnya*. Lu akan disebut kurang beruntung kalau lu akhirnya menyendiri, atau gabung dipergaulan sesat dan jadi anak manja seumur hidup.

Nah, jadi ga kenal deh gua ngobrol heart to heart antara kakak beradek yang sampe sekarang gua masih penasaran rasanya kaya apa – (kesian deh gua), dan tumbuh dewasa jadi nampak sulit. Gua harus nyari referensi dari’ luar’ dan belajar (gaul) lebih banyak, setelah dapet materi, praktek-innya juga ga segampang buang ingus. Butuh effort lebih.

Beda setelah gua kenal yang namanya sekolah (dunia luar rumah), kenal ibu guru, dan  banyak temen-temen sebaya (dilingkungan rumah ga terlalu banyak anak kecil yang ‘asik’ hehe). Gua mulai nemuin komusitas yang punya problem serupa, orang-orang yang punya minat yang sama, viola! masalah pun kerasa lebih ringan dan gua berenti ngangap kalau hidup gua yang paling sinetron. : P

Setelah merasa punya dasar ilmu kehidupan (tsah elahhhh -__-), gua pun mikir lagi, apa yang bisa gua kasih balik ke nyokap gua. Apa yang harus gua lakuin hanya demi bikin ibu gua bangga? Untungnya… dengan hanya punya satu orang tua (ibu), beban gua jadi lebih sedikit dibanding temen-temen yang punya orang tua lengkap (bahkan double, kawin lagi – misalnya).

Gua hanya perlu bikin bangga satu orang, itu aja. (phewww..) I’m on my way to make my mom proud.

*

Nah, demikian juga dengan Negara kita Indonesia. Kita beruntung  kita cuma punya satu orang tua, Ibu Pertiwi namanya. (ga ada kan bapak nusantara? Ga ada kan??)

*Dan kalau lu mau bawa permasalahan ini jadi permasalahan yang lebih global, gua kenalin elu semua sama ibu kita yang lainnya, mother earth.* so, if I can say, yes we’re lucky.

Seperti yang lu semua sering keluhin soal Negara kita, Indonesia kacau nyaris ga ketolongan. Tapi seperti cerita gua sebelumnya, kalau kita berusaha belajar sendirian, kita pasti hopeless, desperate sampe mau loncat dari jendela buat ngebela sesuatu yang kita sebut dunia ideal.

PR kita sekarang adalah, cari referensi dari anggota keluarga lain buat bikin ibu kita bangga.

Yeah we can do it, kita semua bersaudara bukan?