Conscious Contact

Tangible mind in a quarter.

Category: single talk

Perjalanan Ke Timur

Perjalanan ke timur kemaren ini luar biasa!! Gua ga bisa ceritain semua lewat tulisan ini. Tapi perjalanan kemarin bener-bener sungguh-sungguh tanpa penyesalan sama sekali!

It was full of bliss in every corner.

I just go. By my self. Without any plan.

My only plan was, putting one foot in front of another.

And I did it.

 

Buat yang cukup kenal gua, pasti tau kalau gua bukan orang yang sembarang keluar rumah tanpa itinerary yang jelas. Semua terinci, semua terjadwal. Hahaha. Bahkan kalau bisa jadwal sampe jam tepatnya untuk beberapa hari kedepan udah disusun dari minggu kemaren. Memang gua serempong itu. (rempong ya bukan OCD – ga mau ngaku) XP XP XP.

Kemarin, gua cuman berbekal backpack, tujuan gua cuman Ubud, and let universe do the rest for me.

Every one I meet, keep tellin me to be carefull. HAHAHA!

Disana lembaran-lembaran kebuka sedikit-sedikit. Area abu-abu mulai sedikit terang (dan sekarang kembali abu-abu) WAKAKAK!!

Dapet sahabat-sahabat baru. Kenalan juga ama temen-temen baru yang datang entah dari belahan dunia mana- udah ga tau lagi. Gypsies, hippies, bunch of warriors – you named it. Orang-orang yang selama ini gua kira cuman dongeng dan ada di dalem Instagram aja (hahaha). Norak memang. Tapi ada!! haha..

Thanks Kak Nindi, for keep telling me to go. :)

Thanks Elpan my sharing partner selama nyasar. :P

Thanks buat Puri, dan Dinni Tresnadewi, Pa As, juga Ketut di Ubud, perjalanan kemaren bikin ketemu sahabat baru. :’)

Rudi, Levi , Rusty, Emily, and Chanyana  for amazing experiences. :’)

969c4ecc69b6be9f6008d4b8fe39442f

I don’t travel alone to get away from anyone.

I travel alone to get closer to me.

-xoxoesss-

Me: no more than just a lucky traveler.

Advertisements

Nada Tinggi

People don’t know how to talk to each others lately.

Kita bicara dengan nada-nada tinggi. Mudah tersinggung. Mudah tersulut.

Orang-orang masih tetap sama, permasalahan masih tetap banyak, solusi belum juga beres dilakukan.

Kita bicara dengan nada-nada tinggi. Seperti bulu-bulu kucing yang berdiri ketika merasa terserang.

Mempertahankan diri. Mempertahankan ego.

Kita bicara dengan nada-nada tinggi. Kita, tidak lagi bicara.

sederhana

Menyampaikan dengan cara sesederhana mungkin

untuk hal-hal yang sama sekali tidak sederhana,

tidaklah sesederhana keliatannya.

PS: Hal sederhana termudah adalah R.M Padang Sederhana.

PPS: Hal sederhana termurah adalah trayek angkot jurusan Sederhana-Buahbatu.

PPPS: Sederhana yang banyak keinginan adalah puisinya Sapardi Djoko Damono.

Menulis Lisan

Tong kosong berbunyi paling nyaring. (tapi) Tampangnya paling bening!

Terus.. Kalau tong yang berisi, mungkin suaranya lebih nge-bass kali yah, kak? Berdehem berat kayak Chakra Khan lagi radang tengorokan getoh.. (tapi) yang pasti mukanya  bakal lebih asem dari yang nyaring sih, bro!

..

Tadinya kupikir komunikasi adalah runtutan peristiwa sederhana atas tercetusnya kalimat yang disampaikan dan saling berbalasan secara verbal. Kalimat yang terdiri dari deretan kata yang semula bersarang dalam pikiran (mind), kemudian dia terbang menyusun makna. Sehingga orang lain -selain sang pemikir- dapat sepaham atau minimal sekedar tau aja gitu, bro! Meski ga paham-paham banget.. (lah?!) HAHAH :))

Orang yang tidak nyaring (seperti tong) mungkin memiliki pikiran yang lebih liar, sehingga dia membutuhkan jeda waktu lebih panjang untuk menjinakan pikirannya.

Disisi lain, jika makna dilontarkan secara verbal, lantas seberapa hebat partner kita mengingat pesan? Berapa lama pesan itu akan diingat? Apakah ia akan mengartikan pesan utama dengan tepat, atau malah ter-distract faktor-faktor lainnya?

..

Kemudian aku paham sesuatu.

Berkomunikasi secara verbal adalah cara pesan tersampaikan dengan rapuh dan mudah berlalu. – Tidak cocok bagi mereka-mereka yang pemalu.

Hal-hal non verbal adalah pesan bawah sadar yang sering keluar jalur dan mengaburkan. – Disini penerima pesan mudah terpicu menjadi takabur.

Hal-hal yang tersirat adalah makna-makna yang terkandung dan mendesak untuk segera terbendung.

Hal-hal yang tersurat-lah yang menjadi panggung bagi pesan-pesan untuk berperan.

Maka, tidak perlu heran jika tulisan menjadi indung yang mewujudkan embrio-embrio pikiran menjadi lebih kekal dan sakral.

Lisan yang tertulis akan menjadi petasan pesan, sehingga kita pun tak akan bosan.

Maradita, Kopok-Yeah.

November 13, 2013

01.13

(when) enough is never enough

Kamu tau apa itu: “hal-yang-tidak-pernah-ada-cukupnya” ?

 

Bakti anak ke orang tua.

Road Trip

Road tripppp!!

Tempat inspirasi dan kenangan minta dipungut. :*

Try it

When you have nothing, and you thank God for it.

You should try it.

Intuition vs Logic

Pernah ga sih lo berada di satu tempat asing yang mengharuskan elu untuk nyari satu alamat. Rumah temen lo, atau lo harus ngelayat, atau lo harus nganterin sesuatu (misalnya).

Bermodal nama jalan, atau gang, nomer rumah, dan mungkin nomer blok-nya lo keliling-keliling sambil sesekali cek GPS/peta. (ga usah sok kaget dah kl ternyata jalanan di Indonesia suka ga tercantum di GPS, heuheuheu). Kalau udah mentok gini, gua pasrah dan mulai nanya-nanya petunjuk jalan ke penduduk sekitar yang gua nilai cukup meyakinkan buat jelasin cara ke tempat tujuan gua.

Pilihan  gua biasanya jatuh kepada tukang becak, bapak-bapak yang nongkrong di warung, atau petugas keamanan yang lagi santai-santai berjaga di posnya. Yup, untuk urusan nanya jalan gua menilai cowo-cowo lebih bisa dihandalkan daripada nanya ke cewe. (piss)

Nah, gua (ga tau kalau orang laen) seringkali petunjuk yang gua dapet selalu agak-agak absurd. Misalnya gini; “Ohhhh, Ya neng.. jadi ntar terusin aja ikutin jalan, nanti pas ada tanjakan belok kanan terusssss ampe ada nemu pohon jambu, nah di polisi tidur ke-2 nanti belok kiri lagi. Nah begitu ada sungai udah deket tuh ama tempatnya. (baca: kenyataannya; Belah mana tanjakannya?!?! Ikutin jalan? Lah ini bercabang dua woi! Pohon jambu? Serius pak? Kaga berbuah semua nih pohon! Polisi tidur? Sungai?!?!?! Woiiiiiii ?!?!?!?!

Kesel? (udah pasti)

Untungnya selalu nemu-nemu aja alamatnya.

*

Yah, menurut gua sih wajar aja mereka kasih deskripsi kaya gitu. (tsah elah, gayanye) Kenapa wajar?

Gua juga baru kepikiran sih, hehe..

Wajar, soalnya itu lingkungan mereka dan mereka mengenal lingkungan mereka. Mereka tau jalanan yang permukaannya datar atau agak menanjak. Mereka tau ada pohon apa aja di jalanan tempat mereka tinggal. Wajar, karena akar mereka ada disana. Sedangkan lo cuman angin yang numpang lewat tanpa berusaha kenalan ama lingkungan disana.

Lo hafal kan cara jalan ke rumah lu? Tau betul kan seluk beluk daerah tempat tinggal lo? Wah, lo kalau ga hafal lo payah.

Kenapa? Sensitif sama lingkungan lu, berarti lo sensitif menempatkan diri lo. Kalau lu udah tau cara memposisikan diri lu, maka lu akan menemukan inti diri lo sendiri.

Seperti yang sering kita denger;

“Getting lost will help you find your self.”

Saran gua kalau nemuin petunjuk jalan kaya gini;

  1. Tarik jarak dengan tempat asing itu tanpa judgement awal yang terlalu cepet, dan buka diri buat menerima/ mengenal lingkungan itu.
  2. Terima energi yang ada disana, posisikan diri lo sebgai bagian lingkungan itu.
  3. Hilangin tolak ukur materil dan ilmiah/ teori tertentu yang cuma jadi penghalang.
  4. Dan terakhir, carilah secara intuitif. Rasakan tubuh lo seperti tubuh penduduk disana.

Cara kita beradaptasi, cara kita berkompromi melatih kesensitifan kita dalam analogi pencarian alamat ini.

Selamat mencari. :)

a lone

I live alone, entirely alone. I never speak to anyone, never; I receive nothing, I give nothing… When you live alone you no longer know what it is to tell something: the plausible disappears at the same time as the friends. You let events flow past; suddenly you see people pop up who speak and who go away, you plunge into stories without beginning or end: you make a terrible witness. But in compensation, one misses nothing, no improbability or story, each too tall to be believed in cafes.

Jean-Paul Sartre, La Nausée 

*

yah kurang lebih, begini lah yang ada diperasaan gua waktu gua nge twit:

“Rasanya, nafas ini kurang harmoni kalau nafas sendirian. Coba nafasnya berdua.. Ahh (pengep koplok!)”

atau;

“Bobok sendirian dingin eaa? Coba kalau boboknya ramean, ya minimal bedua gitu. *ehem*”

*

stay strong my little dear friend who feels lonely. basicly we are all alone. (but not lonely).

cheers :)

*

catatan: you give something, you receive more. (amen)